Latest News

Minggu, 24 Januari 2021

Kebahagiaan Seorang Muslim dan Cara Menggapainya

Kebahagiaan adalah kata yang ringan di lisan, disukai hati semua manusia, ialah perasaan yang dirasakan oleh menusia yang direpresentasikan pada ketenangan jiwa dan hati, kelapangan dada. Dan semua manusia berusaha untuk mencapai kebahagiaan dalam hidupnya. Mayoritas manusia menganggap kebahagiaan dalam aspek dunia. Maka kebahagiaan bukanlah pada keberhasilan dunia sebagaimana Qorun juga berhasil dalam dunianya dan bukan pula kesenangan dunia. Tetapi kebahagiaan hakiki adalah di dalam ketaatan kepada Allah dan jauh dari maksiat dan menjadi sebab kemenagan abadi. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (Ali Imron: 185)

Kebahagiaan dalam pandangan Islam ada dua tingkatan:

1. Kebahagiaan Duniawi

Islam mensyariatkan hukum-hukum dan menjelaskan dhawabit yang dibebankan kepada manusia untuk kebahagiaan dunianya, tetapi Islam menekankan bahwa kehidupan dunia hanyalah jalan menuju akhirat dan bahwa kehidupan hakiki yang wajib diusahakan oleh manusia adalah kehidupan akhirat. Allah berfirman: Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (an Nahl: 97) Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (al Qashash: 77)

2. Kebahagiaan Ukhrawi

Inilah kebahagiaan yang tetap dan abadi dan merupakan tingkatan kesalehan seorang di kehidupan dunianya. Allah berfirman: (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "Salaamun'alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan". (an Nahl: 32)

Islam telah memberikan tugas kepada manusia sebagai khalifah untuk memakmurkann bumi, merealisasikan HAM yang baik dan memperbaikinya. Hal itu diluputi banyak kesulitan dan menuntut manusia untuk berusaha dengan keras dan bersungguh-sungguh.

Sebagaimana kehidupan dunia tidak selalu mudah seperti yang diimpikan manusia bahkan selalu berputar dari kemudahan ke kesulitan dan dari sehat ke sakit dan dari fakir ke kaya dan sebaliknya. Cobaan-cobaan ini selalu diujikan kepada manusia di dalam hidupnya, maka dalam perjalannya manusia membutuhkan kesabaran, keinginan kuat, tawakkal, tekad, keberanian, akhlaq mulia dan sebagainya. Inilah penyebab terkuat ketenangan, kebahagiaan, dan kerelaan. Allah berfirman:

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun".Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk (al Baqarah: 155-157)

Sedikit manusia yang mengetahui hakikat kebahagiaan maka mereka beramal untuk mencapainya dan menjadikan dunia sebagai sarana mencapai akhirat dan mereka tidak terlenakan dengan dunia dan perhiasannya dari akhirat. Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (Hud 15-16) Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir (al Isra: 18)

Berikut merupakan sebab-sebab kebahagiaan menurut Syaikh Abdurrahman As Sa'di.

1. Iman dan amal shalih

Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta" (Thaha 123-124)

Kehidupan yang baik ada pada ahli iman dan amal shalih adapun selain mereka walaupun bersenang-senang dengan kelezatan materi maka mereka ada dalam kesempitan dan kesusahan

Seorang mukmin yang mengharapkan apa yang di sisi Allah walaupun dunia terasa sempit dan diuji di dalamnya maka sesungguhnya ia merasakan kebahagiaan dengan iman dan amal shalihnya. Ibnu Qayyim berkata bahwa ia mendengar Syaikh Ibnu Taymiyyah berkata: “Sesungguhnya di dunia ada surga siapa yang tidak memasukinya maka tidak memasuki surga akhirat”, dan beliau berkata kepadaku lagi: “Apa yang diperbuat musuh-musuhku kepadaku? sesungguhnya surgaku dan tamanku di dadaku di mana aku pergi ia bersamaku tidak berpisah denganku, sesungguhnya penjaraku adalah khalwat dan membunuhku adalah kesyahidan dan pengasingan ke luar negeriku adalah rekreasi”. Beliau berkata di penjaranya di benteng: “Jika benteng ini penuh dengan emas tidak sepadan di sisiku dengan mensyukuri nikmat ini, dan berkata lagi kepadaku: Orang yang dipenjara adalah orang terkurung hatinya dari Rabbnya dan orang yang tersandera adalah siapa yang disandera hawa nafsunya. Dan ketika masuk ke dalam benteng dan ada di dalam pagarnya, beliau melihatnya dan berkata: “Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa” (al Hadid: 13)

Ibnu Qayyim berkata: “Dan Allah mengetahui tidak ada seorangpun yang hidupnya lebih baik dari hidupnya dengan segala kesempitan hidup maka dia adalah orang yang paling baik hidupnya dan paling lapang dadanya dan paling kuat hatinya dan paling bahagia jiwanya yang terpancar kenikmatan di wajahnya”.

2. Berbuat baik kepada makhluq dengan ucapan dan perbuatan dan perbuatan baik. 

Allah menolak kesedihan dari hamba dan memperlakukan hamba sebagaimana ia memperlakukan orang lain. Ibnu Qayyim berkata: “Siapa yang berlemah lembut dengan hamba-hamba Allah maka Allah akan lemah lembut kepadanya, dan siapa yang menyayangi mereka maka Allah menyayanginya, dan siapa yang berbuat baik kepada mereka Allah berbuat baik kepadanya, dan siapa yang dermawan kepada mereka Allah dermawan kepadanya, dan diapa yang memberi manfaat kepada mereka Allah memberinya manfaat, dan siapa yang menutup aib mereka Allah menutup aibnya dan siapa yang mencegah kebaikan kepada mereka Allah mencegah kebaikan darinya dan siapa yang bermualah kepada ciptaanNya dengan suatu sifat Allah bermuamalah kepadanya dengan sifat itu di dunia dan akhirat. Maka Allah untuk hambaNya tergantung hamba kepada ciptaanNya”. Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar (an Nisa: 114).

3. Menyibukkan diri dengan amal atau ilmu yang bermanfaat dengannya jiwa bergembira dan rindu

Kesibukan itu mengalihkan hati dari stress dan melupakan sumber kesedihan sehingga jiwa akan gembira dan bertambah giat.

4. Fokus untuk hari itu

Dengan meninggalkan ketakutan akan masa depan atau kesedihan masa lampau, maka ia memperbaiki hari dan waktunya saat itu dan bersungguh-sungguh dalam hal itu. Nabi Muhammad bersabda sebagaimana dalam riwayat Imam Muslim:

“Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu, tetapi katakanlah, Ini telah ditakdirkan Allâh, dan Allâh berbuat apa saja yang Dia kehendaki, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan syaitan.”

5. Memperbanyak berdzikir kepada Allah

Ini merupakan sebab terbesar dalam melapangkan dada dan menenangkan hati sebagaimana firman Allah: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram (ar Ra'd 28)

6. Melihat kepada yang lebih rendah dan tidak kepada yang lebih atas di sisi rizqi

Dengan ini ia merasa berada di atas orang lain di sisi kesehatan dan lainnya maka hilang stress dan sedihnya dan bertambah kegembiraan atas nikmat Allah. Nabi Muhammad bersabda:

“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

7. Berusaha menghilangkan penyebab kesedihan dan berusaha mendapatkan penyebab kebahagiaan

Yaitu dengan melupakan hal-hal tidak disukai yang telah berlalu dan tidak dapat diulang dan mengetahui bahwa memikirkannya adalah sesuatu permainan dan kemustahilan maka hati bersungguh-sungguh untuk menghindari pikiran-pikiran itu.

8. Menguatkan hati dan menghindari hal-hal kesedihan dan khayalan yang mendorong pikiran-pikiran buruk

9. Bersandar dan bertawakkal kepada Allah dan mempercayaiNya dan tamak akan keutamaanNya

Dengan itu akan menolak kesedihan dan mendapatkan kekuatan, kelapangan dan kegembiraan yang banyak di hati.

10. Melihat nikmat yang sudah diperoleh

Jika ditimpa dengan hal yang tidak disukai atau ditakuti maka hendaknya membandingkan dengan nikmat yang diperoleh (agama atau dunia), maka akan tampak untuknya banyaknya nikmat yang ada padanya dan jiwanya menjadi santai dan tenang.

\

Demikian, Wallahu A'lam.

Sumber:

Mafhum as-Saadah fil Islam, Syaikh Abdurrahman bin Mi’lan al Luwaihiq http://www.alukah.net

as-Saadah al-Haqiqiyyah, Dr. Saud bin Nafii’ https://saaid.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mpimedia.net

Jl. Raya Malaka Raya No. 10
Kelapa Dua Wetan, Ciracas
Jakarta Timur