Latest News

Jumat, 26 Oktober 2018

Benci HTI atau Benci Kalimat Tauhid?


MPIMEDIA.NET - Peringatan Hari Santri tahun ini diwarnai peristiwa yang menggegerkan publik. Di Garut, dalam upacara peringatan hari santri, terjadi insiden pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid, oleh oknum anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Tak berjeda lama, video pembakaran bendera itupun viral. Media sosial mendadak ribut dengan pro-kontra pembakaran bendera, yang diklaim oleh pelaku, sebagai bendera HTI.

Gambar: mpimedia.net

Berbagai pihak mengeluarkan pernyataan sikapnya terkait kasus ini. GP Ansor, sebagai induk organisasi dari Banser, mengklaim bahwa bendera yang dibakar oleh oknum kadernya adalah bendera HTI. Berbeda dengan GP Ansor, MUI menyatakan bahwa bendera yang dibakar bukanlah bendera HTI, tetapi bendera kalimat tauhid.

Anasir Umat Islam lainnya tak tinggal diam. Di Solo, umat Islam menggelar long march dengan membawa bendera tauhid. Di kota-kota lain pun bersusulan mengadakan acara serupa, sebagai pembelaan terhadap bendera tauhid.

Berbagai analisis muncul, di antaranya adalah analisis yang menyalahkan HTI karena menggunakan bendera universal milik umat Islam sebagai bendera organisasi. Ya, sampai detik ini, HTI masih sangat berguna sebagai “kambing hitam” untuk berbagai persoalan.

HTI sebagai organisasi sudah dibubarkan oleh pemerintah melalui keputusan Kemenkumham. Sebagaimana yang kita ketahui, HTI dalam semua narasi dakwahnya mengerucutkan solusi dari semua masalah, yaitu khilafah. Mirip jargon iklan sebuah minuman. Sampai di sini, mari kita jujur-jujuran saja, apa atau siapa yang ditakuti? HTI atau khilafah?

Salah satu sebab dari dibubarkannya HTI adalah paham khilafah yang bertentangan dengan pancasila, anti-NKRI. Sebagai ajaran Islam, bukan hanya ajaran HTI, khilafah memang berbenturan secara langsung dengan paham nation-state(negara-bangsa). Makanya, keduanya akan saling menegasikan, saling mengalahkan.

Kita yang lahir dan hidup dalam ruang lingkup Indonesia sebagai negara-bangsa, mungkin masih kesulitan untuk mendeskripsikan apa dan bagaimana sistem khilafah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Terdengar utopis memang, apalagi kita berada di tengah-tengah umat Islam yang awam dan masih resisten terhadap ajaran khilafah.

Saya jadi teringat cerita dari seorang kawan. Suatu hari, seorang kawan dai bercerita tentang kesulitan temannya sesama dai dalam menyampaikan materi tentang khilafah.

“Ini berat sekali, akhi,” keluh temannya, sambil menguraikan masalahnya, “Mendakwahkan khilafah itu sekarang menyimpan potensi bahaya. Kita bisa dituduh HTI, radikal. Bahkan kita bisa diciduk oleh Polisi, karena mengajarkan paham yang berpotensi mengancam NKRI.”

“Akhi,” teman saya mulai menasehati, berlagak sok bijak, “Bukankah memang jalan para nabi itu penuh onak dan duri? Kalau hanya ceramah tematik, datang menunggu undangan berbicara, dengan tema haha-hihi, pulang dapat amplop, siapa lagi yang mau menyampaikan tema-tema berat ini, menempuh jalan terjal ini?”

Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah, sebagaimana disebutkan dalam hadits nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, akan tegak kembali di akhir zaman, sebagai fase terakhir bagi umat Islam. Kita, sebagai orang Islam yang mengaku diri sebagai pengikut nabi, wajib mengimani hal ini, sebagai konsekuensi atas keimanan kita pada Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa sallam.

Tak salah memang. Berat sekali membayangkan bagaimana caranya khilafah akan tegak di masa depan. Bahkan membayangkannya pun sangat sulit. Bagaimana tidak, melihat kondisi umat Islam hari ini, mungkin baru sebagian kecil yang sudah paham tentang khilafah.

Banyaknya narasi yang mendelegitimasi ajaran khilafah juga bak jamur di musim hujan. Kebanyakan narasi tersebut berfokus pada tataran praktis penegakan kekuasaan yang dijalankan oleh para khalifah, seperti kesewenangan sultan, sisi pribadi sultan yang memiliki banyak selir, atau konflik sipil.

Bukan hanya dari kalangan orientalis Barat, seseorang dengan julukan Gus, yang menjadi dosen di Australia itu, adalah salah satu ahlinya. Ahli mencari sisi buruk khalifah, dari urusan perang, hingga urusan ranjang. Seolah dia pura-pura lupa, bahwa ajaran khilafah dan praktek khilafah adalah dua hal yang berbeda.

Ya, hari ini mungkin kita belum tahu bagaimana sistem negara-bangsa ini akan runtuh, dan berganti dengan sistem khilafah. Sebagaimana dulu sebelum tahun 1900, orang-orang Yahudi belum tahu bagaimana cara meruntuhkan Khilafah Utsmaniyah, lalu mendirikan negara Israel dan memecah belah tanah kaum muslimin.

Keimanan terhadap janji Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa sallam akan tegaknya khilafah harus kita pegang erat. Untuk urusan ini, mari kita tengok orang-orang Yahudi. “Janji Tuhan” yang mereka percayai tentang “tanah yang dijanjikan” telah menuntun jalan, menyiapkan diri, dan memanfaatkan momentum untuk mewujudkan Israel Raya.

Mempersiapkan umat adalah hal yang bisa dilakukan untuk saat ini. Allah-lah yang akan mengaturnya, mendatangkan momentum, yang seringkali tanpa kita duga sebelumnya. Tugas berat masih terlihat jelas, bagi para dai, ulama, dan aktivis Islam untuk  memberi pencerahan pada umat tentang ajaran khilafah. Bisa jadi, ini adalah momentumnya.




(Sumber: Kiblat.net)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mpimedia.net

Jl. Raya Malaka Raya No. 10
Kelapa Dua Wetan, Ciracas
Jakarta Timur