Latest News

Recent Posts

Senin, 04 Februari 2019

JALAN MENUJU SURGA

MPIMEDIA.NET - Dakwah dalam Islam merupakan ibadah yang sangat agung, jalan yang ditempuh para nabi dan rasul, para pengembannya merupakan insan-insan terbaik umat yang mempunyai azam yang kuat. Sejatinya dakwah adalah mengajak kepada agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, kepada syariat-Nya dan melarang semua yang menyelisihinya.


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” [Ali ‘Imrân (3): 104]
Ada kisah menarik tentang semangat dakwah yang disampaikan oleh DR. Muhammad Ratib An-Nabulsy saat khutbah Jumat tertanggal 2 Juli 2010. Sebuah kisah inspiratif terjadi di Amsterdam yang sangat menarik untuk disimak. Semoga kisah ini dapat menambah semangat kita dalam berdakwah.

Menjadi kebiasaaan di hari Jum’at, seorang Imam Masjid dan anaknya yang berumur 11 tahun membagi brosur di jalan-jalan keramaian, sebuah brosur yang berjudul Thariiqun ilal jannah, jalan menuju surga. Tapi kali ini suasana sangat dingin ditambah rintik air hujan yang membuat orang benar-benar malas untuk keluar rumah. Si anak telah siap memakai pakaian tebal dan jas hujan untuk mencegah dinginnya udara, lalu ia berkata kepada sang ayah,
“Saya sudah siap, Ayah!”
“Siap untuk apa, Nak?”
“Ayah, bukankah ini waktunya kita menyebarkan brosur ‘jalan menuju surga’?”
“Udara di luar sangat dingin, apalagi gerimis.”
“Tapi Ayah, meski udara sangat dingin, tetap saja ada orang yang berjalan menuju neraka!”
“Ayah tidak tahan dengan suasana dingin di luar.”
“Ayah, jika diizinkan, saya ingin pergi menyebarkan brosur ini sendirian.”
Sang ayah diam sejenak lalu berkata, “Baiklah, pergilah dengan membawa beberapa brosur yang ada.”
Anak itu pun keluar ke jalanan kota untuk membagi brosur kepada orang yang dijumpainya, juga dari pintu ke pintu. Dua jam berlalu dan brosur hanya tersisa sedikit saja. Jalanan sepi dan ia tak menjumpai lagi orang yang lalu lalang di jalanan. Ia pun mendatangi sebuah rumah untuk membagikan brosur itu. Ia memencet tombol bel rumah, namun tidak ada jawaban. Dipencetnya lagi dan tak seorang pun keluar. Hampir saja ia pergi, namun seakan ada sesuatu yang menghalanginya. Untuk kesekian kali ia kembali memencet  bel dan ia mengetuk pintu dengan lebih keras. Ia menungu beberapa lama, hingga pintu terbuka pelan. Ada wanita tua keluar dengan raut wajah yang menyiratkan kesedihan yang dalam. Wanita itu berkata, “Apa yang bisa dibantu wahai anakku?”

Dengan wajah ceria, senyum yang bersahabat, si anak berkata, “Nek, mohon maaf jika saya menggangu anda, saya hanya ingin mengatakan bahwa Allah mencintai Anda dan akan menjaga Anda. Saya membawa brosur dakwah untuk Anda yang menjelaskan bagaimana Anda mengenal Allah, apa yang seharusnya dilakukan manusia, dan bagaimana memperoleh ridha-Nya.”

Anak itu menyerahkan brosurnya dan wanita itu sempat mengatakan terima kasih. Sepekan kemudian, usai shalat Jum’at, seperti biasa Imam masjid berdiri dan menyampaikan sedikit tausiyah, lalu berkata, “Adakah di antara hadirin yang ingin bertanya atau ingin mengutarakan sesuatu?”
Di barisan belakang, terdengar seorang wanita tua berkata, “Tak ada di antara hadirin ini yang mengenal saya, dan baru kali ini saya datang ke tempat ini. Sebelum Jum’at yang lalu, saya belum menjadi seorang muslimah, dan tidak berfikir untuk menjadi seperti ini sebelumnya. Sekitar sebulan yang lalu suami saya meninggal, padahal ia satu-satunya orang yang saya miliki di dunia ini. Hari Jum’at yang lalu, saat udara sangat dingin dan diiringi gerimis, saya kalap, karena tak tersisa lagi harapan saya untuk hidup. Maka saya mengambi tali dan kursi, lalu saya membawanya ke kamar atas di rumah. Saya ikat ujung tali di kayu atap. Saya berdiri di kursi, lalu saya kalungkan ujung tali yang satunya ke leher, saya memutuskan untuk bunuh diri.

Tapi tiba-tiba, saya mendengar suara bel rumah di lantai bawah. Saya menunggu sesaat dan tidak menjawabnya. Paling sebentar lagi pergi, batin saya. Tapi ternyata bel berdering lagi dan saya memperhatikan ketukan pintu semakin keras terdengar. Lalu saya lepas tali yang melingkar di leher saya dan saya turun untuk melihat siapa yang mengetuk pintu. Saat saya membuka pintu, saya melihat seorang bocah berwajah ceria dengan senyum laksana malaikat dan saya belum pernah melihat anak seperti itu. Ia mengucapkan kata-kata yang sangat menyentuh sanubari, ‘Saya hanya ingin mengatakan, bahwa Allah mencintai Anda dan akan menjaga Anda.’ Kemudian anak itu menyodorkan brosur kepadaku yang berjudul Jalan Menuju Surga.

Saya pun segera menutup pintu dan mulai membaca isi brosur. Setelah membacanya, saya naik ke lantai atas melepaskan ikatan tali di atap dan menyingkirkan kursi. Saya telah mantap untuk tidak memerlukan itu lagi selamanya. Anda tahu, sekarang ini saya benar-benar merasa sangat bahagia karena bisa mengenal Allah yang Esa. Tiada illah yang haq selain Dia. Dan karena terdapat alamat markas dakwah yang tertera di brosur itu maka saya datang ke sini sendirian untuk mengucapkan pujian kepada Allah, kemudian berterima kasih kepada kalian, khususnya ‘malaikat’ kecil yang telah mendatangiku pada saat yang tepat. Mudah-mudahan itu menjadi sebab selamat saya dari kesengsaraan menuju kebahagiaan surga yang abadi.”

Mengalirlah air mata para jaamaah yang hadir di masjid dan bergemuruhlah takbir. Allahu Akbar! Sementara sang Imam turun dari mimbarnya menuju shaf paling depan, tempat di mana putranya yang tak lain adalah ‘malaikat’ kecil itu duduk. Sang ayah mendekap dan mencium anaknya diiringi tangisan haru. Allahu Akbar!

[Disalin dari buku Muslim Hebat karya Abu Umar Abdillah terbitan ar-risalah]

Senin, 24 Desember 2018

Badan Pengurus Daerah Mahasiswa Pencinta Islam Lampung Terkena Musibah Tsunami Selat Sunda

MPIMEDIA.NET, Lampung - Innalillahi wa Innailaihi Roji'un, sebuah musibah erupsi gunung krakatau dan tsunami pada Sabtu (22/12/2018), mengakibatkan kerugian dan duka yang mendalam bagi keluarga dan masyarakat Lampung serta Banten. Menurut Informasi yang dilansir dari BNPB, menyatakan sebanyak 373 orang meninggal, 1.459 orang luka-luka, 128 orang hilang dan 5.665 orang mengungsi.

Foto: Porak-poranda setelah terjadi Tsunami


Bencana tsunami tersebut menyapu seluruh pesisir pantai sekitaran Banten dan Lampung pada pukul 21.30 WIB. Disaat yang bersamaan Badan Pengurus Daerah Mahasiswa Pencinta Islam (BPD MPI) Lampung sedang melaksanakan kegiatan Rihlah dan Taddabur Alam di Pantai Marina, sehingga para pengurus dan anggota dapat merasakan secara langsung kedahsyatan tsunami Selat Sunda tersebut.

Informasi yg didapatkan dari ketua BPD MPI Lampung diantaranya:
1. Korban luka ringan 1 orang;
2. Terdapat 2 motor yg rusak parah;
3. 12 motor rusak berat;
4. Total 14 motor rusak tidak dapat dihidupkan, sehingga terpaksa diangkut menggunakan truk;
5. Kerugian ditaksir hingga 50 juta lebih.

Menurut saksi mata di tempat kejadian, anggota MPI Lampung saat itu sedang bersiap-siap untuk beristirahat, kemudian terdengar suara gemuruh air laut beserta ombak besar setinggi lebih dari 3 meter menerjang bibir pantai. Seluruh anggota yang hadir lari berhamburan ke atas bukit yang cukup terjal.

Alhamdulillah 'ala qulihal, tidak ada korban jiwa dari pengurus dan anggota MPI Lampung yang berada di tempat kejadian. Keesokan harinya setelah keadaan dianggap cukup baik, beberapa anggota melakukan penelusuran tempat kejadian. Banyak harta benda yang hilang dan keadaan tempat pun porak-poranda.

"Ombak datang seiring dengan badai yang terjadi di puncak gunung krakatau yang sedang mengalami erupsi. Lahar dan lava mendidih keluar mulai pagi dan terlihat jelas ketika petang dan semakin besar saat gelap.", ujar salah satu saksi mata di tempat kejadian.

Semoga musibah yang terjadi tidak menurunkan semangat perjuangan dakwah saudara-saudara MPI Lampung, dan bisa memberikan motivasi bagi kita untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah serta membuat kita bermuhasabah diri akan kematian yang semakin dekat. Wallahu a'lam


Mari bantu saudara-saudara BPD MPI Lampung dengan menginfaqkan sebagian harta yang kita punya.
Rekening    : BNI Syariah
No. Rek      : 0725043746 (a/n Andi Setiadi)
Konfirmasi : 0853-2154-5467
Harta yang kita infaqkan InsyaAllah akan membantu saudara-saudara yang sedang terkena musibah tsunami.



Reporter  : R. Amr.
Editor      : Ricki Cahya Utama

Jumat, 21 Desember 2018

Aksi Nasional Bela Uighur di Lampung

MPIMEDIA.NET, Bandar Lampung - Alhamdulillahirobbil 'alamin, Segala puji syukur atas limpahan dan curahan nikmat dari Allah kepada hamba-hamba-Nya. Kemarin Jum'at (21/12/2018), telah dilaksanakan Aksi Nasional Bebaskan Uighur di seluruh kota besar di Indonesia. MPI Lampung sebagai organisasi dakwah kampus ikut serta dalam acara tersebut bergabung dengan organisasi masyarakat lainnya.

Foto: Aksi Nasional Bela Uighur di Lampung

Aksi Nasional Bebaskan Uighur di Provinsi Lampung yang dihadiri oleh lebih dari 100 orang dari berbagai elemen masyarakat ini bertujuan untuk mengekspresikan pembelaan kita terhadap kaum Muslim Uighur, Xinjiang, China yang telah lama didiskriminasi oleh Pemerintah China.

Foto: Aksi Nasional Bela Uighur di Lampung

Acara yang berpusat di Tugu Adipura, Kota Bandar Lampung dimulai pada pukul 13.15 WIB dengan orasi yang disampaikan oleh beberapa perwakilan simpatisan aksi. Aksi berjalan damai dan lancar hingga akhir acara.

Selain itu tujuan aksi ini adalah memberikan aspirasi pada pemerintah Indonesia untuk segera memberikan sikap tentang permasalahan muslim di Uighur China serta mendesak pemerintah untuk mengusir Duta Besar (Dubes) China di Indonesia.

Uighur merupakan salah satu etnis minoritas di wilayah bagian China yang mendapat diskriminasi sosial dan kekerasan dari Pemerintah China akibat ideologi dan agama yang mereka anut (Islam).

"Muslim itu satu, dan semua bersaudara. Jika salah satu sakit satu yang lainnya merasakan.", ujar salah satu simpatisan orasi.


Foto: Aksi Nasional Bela Uighur di Lampung



Reprter: R. Amr.
Editor: Ricki Cahya Utama

Kamis, 01 November 2018

Bakar Bendera Tauhid, Berlakukah UU Ormas untuk Banser?


MPIMEDIA.NET – Sebelum disahkan menjadi undang-undang, Perppu Ormas mendapat penolakan keras dari berbagai elemen masyarakat. Tak hanya ormas Islam, tapi juga LSM yang berkecimpung dalam dunia Hak Asasi Manusia (HAM) mengecam pembentukan Perppu tersebut.


Bakar Bendera Tauhid, Berlakukah UU Ormas untuk Banser?

Tentu penolakan tersebut bukan tanpa dasar. Tapi karena pemerintah dinilai tidak memiliki landasan yang kuat untuk menerbitkan Perpu Ormas. Di antara yang kerap menjadi perdebatan ketika itu adalah tidak adanya kegentingan yang memaksa di Indonesia sehingga perlu diberlakukannya Perppu.

Ketika isu Perppu Ormas bergulir, ambisi pemerintah untuk meniadakan Ormas yang dianggap bertentangan dengan Pancasila dan Undang-undang dasar 1945 begitu besar. Hal ini terbukti bahwa pasca disahkan menjadi undang-undang oleh DPR, Badan Hukum Organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dicabut.

Padahal jika dilihat dalam pasal 59 ayat 3 UU Ormas, ternyata UU Ormas tidak hanya mengatur soal ormas yang dianggap bertentangan dengan Pancasila. Tapi juga larangan Ormas untuk melakukan penodaan agama dan tindakan pidana lainnya. Pasal 59 ayat 3 berbunyi, Ormas dilarang:

a. Melakukan tindakan permusuhan terhadap suku, agama, ras, atau golongan
b. melakukan penyalahgunaan, penistaan, atau penodaan terhadap agama yang dianut di Indonesia
c. melakukan tindakan kekerasan, mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum, atau merusak fasilitas umum dan fasilitas sosial; dan/atau
d. melakukan kegiatan yang menjadi tugas dan wewenang penegak hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Sementara itu, pasal 60 menyebutkan bahwa Ormas yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 dan Pasal 59 ayat (3) dan ayat (4) (ketentuan soal larangan bagi ormas -red) dijatuhi sanksi administratif dan/atau sanksi pidana.

Sanksi administratif di sini adalah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (1) terdiri atas peringatan tertulis, lalu penghentian kegiatan dan/atau, pencabutan surat keterangan terdaftar atau pencabutan status badan hukum.

Peringatan tertulis hanya diberikan satu kali dalam jangka waktu tujuh hari kerja. Artinya, jika dalam jangka waktu tujuh hari surat peringatan tertulis tidak diindahkan, pemerintah dalam hal ini Kemenkumham bisa membekukan kegiatan sebuah Ormas. Apabila tetap tidak menggubris, maka ormas tersebut bisa dicabut status badan hukumnya.

Sedangkan ketentuan pindana diatur dalam Pasal 82A (1). Dalam pasal itu menerangkan bahwa setiap orang yang menjadi anggota dan/atau pengurus Ormas yang dengan sengaja dan secara langsung atau tidak langsung melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 59 ayat (3) huruf c dan huruf d dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan, dan paling lama 1 (satu) tahun.

Sedangkan dalam pasal 82A (2) disebutkan, setiap orang yang menjadi anggota dan/atau pengurus Ormas yang dengan sengaja dan secara langsung atau tidak langsung melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal- 59 ayat (3) huruf a dan huruf b, dan ayat (4) dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat S (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.

Akhir-akhir ini, sedang ramai kasus pembakaran bendera tauhid oleh Ormas Banser. Jika kita lihat lebih dalam, pembakaran ini tidak mungkin tanpa kesengajaan karena dilakukan oleh beberapa orang dan disaksikan anggota Banser lain. Bahkan, dari mereka ada yang mengambil video. Kalau dengan argumen spontan, mungkin bisa diterima. Tapi, bukankah Ahok ketika menyinggung Al-Maidah 51 juga spontan?

Pembakaran tersebut jelas berimbas pada terngganggunya ketentraman dan ketertiban umum. Hal ini dibuktikan dengan adanya respon masyarakat yang tinggi terkait pembakaran tersebut. Berbagai ormas Islam di beberapa daerah menggelar aksi Bela Kalimat Tauhid, dan video kecaman berseliweran di media sosial. Oleh sebab itu, Kemenkumham setidaknya perlu memberikan surat peringatan tertulis kepada Banser.

Dan seharusnya kepolisian bisa melakukan proses hukum berdasarkan UU Ormas. Jangan sampai ada anggapan bahwa UU Ormas hanya ditujukan kepada satu ormas tertentu, galak ke satu pihak, mlempem ke pihak lainnya. Maka, kepolisian diharapkan lebih cermat menyikapi keadaan saat saat ini. Sebab, berita pembakaran sudah menjadi isu nasional.

Polisi tidak perlu menjadi ‘pengacara’ seperti ketika kasus Ahok, yang menyebutkan bahwa Ahok tidak punya niat untuk menodai agama. Dari sini penulis berpendapat bahwa jalan paling bijak adalah dengan jalur hukum. Karena jika kita lihat kerangka hukumnya, siapa subjek hukum, objek hukum, apa perbuatan hukumnya, semua sudah jelas. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, berlakukah UU Ormas untuk Banser?



Sumber: (Taufiq Ishaq/Kiblat.net)

Jumat, 26 Oktober 2018

Benci HTI atau Benci Kalimat Tauhid?


MPIMEDIA.NET - Peringatan Hari Santri tahun ini diwarnai peristiwa yang menggegerkan publik. Di Garut, dalam upacara peringatan hari santri, terjadi insiden pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid, oleh oknum anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Tak berjeda lama, video pembakaran bendera itupun viral. Media sosial mendadak ribut dengan pro-kontra pembakaran bendera, yang diklaim oleh pelaku, sebagai bendera HTI.

Gambar: mpimedia.net

Berbagai pihak mengeluarkan pernyataan sikapnya terkait kasus ini. GP Ansor, sebagai induk organisasi dari Banser, mengklaim bahwa bendera yang dibakar oleh oknum kadernya adalah bendera HTI. Berbeda dengan GP Ansor, MUI menyatakan bahwa bendera yang dibakar bukanlah bendera HTI, tetapi bendera kalimat tauhid.

Anasir Umat Islam lainnya tak tinggal diam. Di Solo, umat Islam menggelar long march dengan membawa bendera tauhid. Di kota-kota lain pun bersusulan mengadakan acara serupa, sebagai pembelaan terhadap bendera tauhid.

Berbagai analisis muncul, di antaranya adalah analisis yang menyalahkan HTI karena menggunakan bendera universal milik umat Islam sebagai bendera organisasi. Ya, sampai detik ini, HTI masih sangat berguna sebagai “kambing hitam” untuk berbagai persoalan.

HTI sebagai organisasi sudah dibubarkan oleh pemerintah melalui keputusan Kemenkumham. Sebagaimana yang kita ketahui, HTI dalam semua narasi dakwahnya mengerucutkan solusi dari semua masalah, yaitu khilafah. Mirip jargon iklan sebuah minuman. Sampai di sini, mari kita jujur-jujuran saja, apa atau siapa yang ditakuti? HTI atau khilafah?

Salah satu sebab dari dibubarkannya HTI adalah paham khilafah yang bertentangan dengan pancasila, anti-NKRI. Sebagai ajaran Islam, bukan hanya ajaran HTI, khilafah memang berbenturan secara langsung dengan paham nation-state(negara-bangsa). Makanya, keduanya akan saling menegasikan, saling mengalahkan.

Kita yang lahir dan hidup dalam ruang lingkup Indonesia sebagai negara-bangsa, mungkin masih kesulitan untuk mendeskripsikan apa dan bagaimana sistem khilafah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Terdengar utopis memang, apalagi kita berada di tengah-tengah umat Islam yang awam dan masih resisten terhadap ajaran khilafah.

Saya jadi teringat cerita dari seorang kawan. Suatu hari, seorang kawan dai bercerita tentang kesulitan temannya sesama dai dalam menyampaikan materi tentang khilafah.

“Ini berat sekali, akhi,” keluh temannya, sambil menguraikan masalahnya, “Mendakwahkan khilafah itu sekarang menyimpan potensi bahaya. Kita bisa dituduh HTI, radikal. Bahkan kita bisa diciduk oleh Polisi, karena mengajarkan paham yang berpotensi mengancam NKRI.”

“Akhi,” teman saya mulai menasehati, berlagak sok bijak, “Bukankah memang jalan para nabi itu penuh onak dan duri? Kalau hanya ceramah tematik, datang menunggu undangan berbicara, dengan tema haha-hihi, pulang dapat amplop, siapa lagi yang mau menyampaikan tema-tema berat ini, menempuh jalan terjal ini?”

Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah, sebagaimana disebutkan dalam hadits nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, akan tegak kembali di akhir zaman, sebagai fase terakhir bagi umat Islam. Kita, sebagai orang Islam yang mengaku diri sebagai pengikut nabi, wajib mengimani hal ini, sebagai konsekuensi atas keimanan kita pada Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa sallam.

Tak salah memang. Berat sekali membayangkan bagaimana caranya khilafah akan tegak di masa depan. Bahkan membayangkannya pun sangat sulit. Bagaimana tidak, melihat kondisi umat Islam hari ini, mungkin baru sebagian kecil yang sudah paham tentang khilafah.

Banyaknya narasi yang mendelegitimasi ajaran khilafah juga bak jamur di musim hujan. Kebanyakan narasi tersebut berfokus pada tataran praktis penegakan kekuasaan yang dijalankan oleh para khalifah, seperti kesewenangan sultan, sisi pribadi sultan yang memiliki banyak selir, atau konflik sipil.

Bukan hanya dari kalangan orientalis Barat, seseorang dengan julukan Gus, yang menjadi dosen di Australia itu, adalah salah satu ahlinya. Ahli mencari sisi buruk khalifah, dari urusan perang, hingga urusan ranjang. Seolah dia pura-pura lupa, bahwa ajaran khilafah dan praktek khilafah adalah dua hal yang berbeda.

Ya, hari ini mungkin kita belum tahu bagaimana sistem negara-bangsa ini akan runtuh, dan berganti dengan sistem khilafah. Sebagaimana dulu sebelum tahun 1900, orang-orang Yahudi belum tahu bagaimana cara meruntuhkan Khilafah Utsmaniyah, lalu mendirikan negara Israel dan memecah belah tanah kaum muslimin.

Keimanan terhadap janji Rasulullah shallallahu ‘Alaihi wa sallam akan tegaknya khilafah harus kita pegang erat. Untuk urusan ini, mari kita tengok orang-orang Yahudi. “Janji Tuhan” yang mereka percayai tentang “tanah yang dijanjikan” telah menuntun jalan, menyiapkan diri, dan memanfaatkan momentum untuk mewujudkan Israel Raya.

Mempersiapkan umat adalah hal yang bisa dilakukan untuk saat ini. Allah-lah yang akan mengaturnya, mendatangkan momentum, yang seringkali tanpa kita duga sebelumnya. Tugas berat masih terlihat jelas, bagi para dai, ulama, dan aktivis Islam untuk  memberi pencerahan pada umat tentang ajaran khilafah. Bisa jadi, ini adalah momentumnya.




(Sumber: Kiblat.net)

Senin, 22 Oktober 2018

Nista Sekali, Kalimat Indah yang Dijunjung Tinggi oleh Kaum Muslimin Dibakar

MPIMEDIA.NET - Apasih yg mereka lakukan? Apasih yg ada didalam fikiran mereka sebenarnya? Apakah mereka benar² sadar atas tindakan yang mereka lakukan?

Apakah mereka benar² bodoh sampai tidak tahu itu adalah kalimat suci, kalimat tinggi, yang seharusnya dijaga seperti apa yang dilakukan Mushab bin Umair. Ingatlah akan peristiwa ini!!!

Kalimat tertinggi, kalimat terindah yang bisa menghantarkan setiap orang yang mengimaninya, mengucapkannya, dan melaksanakannya itu ke Jannah-Nya.

 
Gambar: mpimedia.net

Sangat mudah melempar kata² bahwa bendera yang didalamnya ada kalimat tauhid itu adalah bendera HTI sementara tahukah kawan bahwa itu adalah simbol aqidah Islamiyah.

Kita disini telah menyaksikan bagaimana kejadian itu terjadi, perendahan kalimat tauhid merupakan kekalahan bagi diri mereka yg melakukannya. Karena apa? karena mereka telah menodai ucapan mereka sendiri ketika bersyahadat, didalam sholatnya. Kita tak tahu apa isi hati mereka, biarkan yang di dalam hati itu menjadi urusan Allah. Namun kejadian ini sungguh membuat kita malu, terhina karena Islam kembali direndahkan. Bahkan yang lebih parah oleh umat Islam itu sendiri.

Bertaubatlah, Bertaubatlah, dan bertaubatlah dengan kesungguhan yang sangat atas apa yang kalian lakukan. Sebelum Allah menghendaki kuasaNya atas apa yang kalian lakukan. Sungguh jahat, jahat sekali karena telah merendahkan Tauhid, Kalimat indah yang dijunjung tinggi oleh kaum Muslimin.



Penulis: Mayhendra

BENDERA UMMAT ISLAM DIBAKAR!!!

MPIMEDIA.NET - Izzah Islam di Bawah Panji Tauhid


Kalimat yang merupakan kunci surga. Menjadi simbol kemuliaan Islam yang dengannya kalimat LaailahaillaAllah menjadi saksi pengorbanan para pejuang yang berjihad melawan musuhnya. Para sahabat dengan ghirahnya memperjuangkan Islam di bawah kibaran panji Islam diiringi dengan gemerincing pedang, hingga tetesan darah kemenangan


Sumber: Mahasiswa Pencinta Islam Semarang

Namun kini kalimat itu dihina oleh sebagian orang yang mengaku Islam namun dengan bangganya membakar bendera bertuliskan kalimat syahadat 'LaailahaillaAllah'. Kalimat yang dengan nya kita berislam. Kalimat yang dengan nya kita mulia, hidup dan mati kita untuk memperjuangkannya


Mahasiswa Pencinta Islam
"Al Kitab Al Hadi As Sayfu An Nashir"



(Sumber: Mpi Semarang)

Senin, 24 September 2018

PR BESAR YANG HARUS DIHADAPI SETELAH KORDINASI PERTAMA BADAN PENGURUS PUSAT MAHASISWA PENCINTA ISLAM (BPP MPI)


MPIMEDIA.NET, Jakarta   Badan Pengurus Pusat Mahasiswa Pencinta Islam (BPP MPI) mengadakan pertemuan pertama pada 22-23 September 2018. Pertemuan pertama yang dilaksanakan bertempat di Yayasan Jalinan Keluarga Dakwah (JKD), Kota Jakarta Timur, Jakarta. Acara ini berlangsung secara kondusif hingga akhir acara. Walaupun berlangsung secara kondusif, semua pembahasan belum dapat diselesaikan seluruhnya pada pertemuan pertama kali ini. Sehingga akan diselesaikan dengan cara diskusi secara online dan segera mengadakan pertemuan selanjutnya.

 Kordinasi Pertama Badan Pengurus Pusat 
Mahasiswa Pencinta Islam (BPP MPI)

Salah satu pembahasan pada pertemuan ini yaitu mengevaluasi bahwa MPI memiliki tujuan yang besar, dengan begitu maka akan membutuhkan energi yang besar pula sehingga kita harus memiliki persiapan untuk mencapai tujuan yang besar tersebut.
"Mari kita berfikir menggunakan pola pikir penakluk pusat peradaban, jangan menggunakan cara berfikir orang pinggiran" ujar salah satu Majelis Syuro BPP MPI, Ustadz Lukman. 

"Kita berbicara mengenai konsep yang sangat penting, tetapi jangan lupa, bahwa kita berhadapan dengan SDM, kita tidak cukup hanya dengan memahamkan, tetapi perlu adanya kombinasi antara memahamkan dan menggerakkan. Bagaimana sifat pergerakan adalah bergerak secara ekspresif, bergerak dengan cepat, misal ada kemungkaran maka kita harus bergerak dengan cepat untuk mengatasinya." Lanjut Ustadz Lukman. Maka ini merupakan PR besar kita bersama, untuk mencapai tujuan kedepan. Karena dengan memahamkan saja tidak cukup. Kita juga harus berani bergerak karena MPI adalah Organisasi Pergerakan. 

Kordinasi Pertama Badan Pengurus Pusat 
Mahasiswa Pencinta Islam (BPP MPI)

Sehingga pada pertemuan tersebut BPP MPI bersama Majelis Syuro difokuskan salah satunya kepada pemecahan masalah berupa menciptaan produk/kader yang memahami ideologi Islam dan berkarakter Islami. Sehingga mampu memahami cara menjalankan MPI sebagai Organisasi Pergerakan sesuai dengan ideologi Islam.


Reporter: Ricki Cahya Utama

Senin, 03 September 2018

Ngebahas Tentang Hidayah (NGETEH) Bersama MPI Malang

MPIMEDIA.NET, Malang -- Alhamdulillah atas karunia nikmat kesehatan dan kemudahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Mahasiswa Pencinta Islam Malang sukses menggelar acara NGETEH (Ngebahas Tentang Hidayah) dengan tema "Biar Ngampus Nggak Sekedar Status" pada Ahad (02/09/18), bertempat di Masjid Al-Muhajirin Griyasanta Eksekutif, Malang.


NGETEH (Ngebahas Tentang Hidayah) Bersama MPI Malang

Acara ini bertujuan untuk menginspirasi dan memberikan motivasi kepada para mahasiswa khususnya yang baru memasuki dunia perkuliahan atau biasa disebut dengan mahasiswa baru (Maba). Dalam acara ini, peserta sangat menikmati perbincangan dengan para pemateri. Ini terlihat dari senyuman dan tawa kecil para peserta saat pemateri menyampaikan motivasinya yang mengelitik.


Banyak sekali tips-tips yang dibagikan oleh pemateri agar tidak menjadi mahasiswa yang kupu-kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang). Salah satunya bagaimana cara untuk menyeimbangkan menjadi seorang akademis dan aktivis. Semoga apa yang disampaikan pemateri bisa bermanfaat bagi para peserta kedepannya dalam menjalani hari-hari di kampusnya masing-masing.


NGETEH (Ngebahas Tentang Hidayah) Bersama MPI Malang

Tak lupa juga kami mengucapkan Jazakumullah Khair kepada Pembicara dan Moderator, panitia, takmir Masjid Muhajirin Griyashanta Eksekutif, donantur, sponsor, serta semua pihak yang ikut membantu berlangsungnya acara ini.


Moderator : Ustadz Alfa Yusuf (Majelis Syuro MPI)
Pembicara : 1. Surya Perdana Hadi, S.E.
- Mahasiswa Pascasarjana Ekonomi Syariah
- Alumni FEB Universitas Brawijaya
- Ketua BEM Ponpes Darusy Syahadah Boyolali (2017-2018)
- Owner Nasi "Cak Mamat"
- Co-Owner Peternakan Kambing/Domba "Mamamoe Farm"

2. M. Ibrahim Fayadl
- Juara MTQMN
- Hafidz 30 Juz
- Mahasiswa Universitas Brawijaya
- Imam Muda MRP Universitas Brawijaya


Supported by:
1. Masjid Muhajirin Griyashanta
2. Griya Sedekah Malang
3. LAZ Baitul Maal Abdurrahman bin Auf
4. Darul Aqiqah
5. AHA (Asmaul Husna Aritmatika)
6. Loemientoe Screen Printing
7. Inot Produktion
8. Nevast Konfeksi
9. Bagong Garage
10. Mamamoe Farm
11. Bakso Pak Wit
12. Waroeng Cak Mamat
13. Gedhang Nugget
14. Laudry Salsabila



Reporter: Asdikin
Editor: Ricki Cahya Utama

Sabtu, 10 Maret 2018

Pandangan dan Pernyataan Mengenai Pendataan dan Pembinaan Mahasiswi Bercadar UIN Sunan Kalijaga (MPI Yogyakarta)

Pandangan dan Pernyataan Mengenai Pendataan dan Pembinaan UIN Sunan Kalijaga

“Pandangan dan Pernyataan terhadap Surat Edaran Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Mengenai Pendataan dan Pembinaan Mahasiswi Bercadar” 
Mahasiswa Pecinta Islam Daerah Yogyakarta 

Noktah
     Beberapa hari ini publik dikejutkan mengenai surat edaran dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN SUKA) Yogyakarta. Surat bernomor B-1301/Un.02/R/AK.00.3/02/2018 ini memberikan permohonan mengenai pendataan dan pembinaan terhadap mahasiswi bercadar. Surat edaran ini sontak mengejutkan publik karena membuat publik bertanya, pembinaan seperti apakah yang dimaksud? Kenapa yang didata dan dibina mahasiswi bercadar? Apakah pendataan dan pembinaan ini juga berlaku bagi mahasiswi dengan karakter pakaian tertentu yang lain? 
    Beberapa kalangan menyatakan bahwa kebijakan ini kurang tepat untuk diberlakukan, karena cadar merupakan bagian dari ekspresi individu dalam berpakaian dan ekspresi ini merupakan hak setiap individu. Terlebih pendataan dan pembinaan secara khusus dilakukan terhadap mahasiswi bercadar. Hal ini menimbulkan kecurigaan akan praktik diskriminatif yang dilakukan oleh kampus. Apabila memang ini merupakan sebuah bentuk praktik diskriminatif di dalam kampus, maka hal ini adalah salah. Direktur Pengkajian Kebijakan Strategis Pusat HAM Islam Indonesia (PUSHAMI), Jaka Setiawan, bahkan menyatakan bahwa surat edaran tersebut bertentangan dengan keputusan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia yang melarang adanya kebijakan diskriminatif di dalam perguruan tinggi. 
    Kebijakan kampus yang diskriminatif cenderung memarginalkan kelompok tertentu yang diidentifikasinya. Marginalisasi ini merugikan kelompok yang didiskriminasi. Dampak paling ringan dari hal ini adalah seputar tekanan psikologis terhadap pihak yang dirugikan, dan sebagai mahasiswa, hal ini bisa mengganggu proses belajar.
    Proses pembinaan yang hendak diberlakukan oleh pihak kampus belum secara transparan diberitahukan kepada publik. Hal ini kembali memicu kecurigaan masyarakat akan pola pembinaan yang hendak dilakukan. Apabila dikaitkan dengan peserta pembinaan, yang notabene merupakan mahasiswi bercadar, maka dapat ditebak bahwa pembinaan ini memiliki tujuan utama untuk ‘menyadarkan’ mahasiswi agar melepas cadar mereka. 
     Pengkhususan pembinaan kepada mahasiswi bercadar menjadi masalah tersendiri. Permasalahan muncul karena adanya indikasi praktik diskriminatif, dan juga, praktik untuk intervensi hak pribadi dalam berekspresi. Kembali, cadar merupakan hak tiap individu untuk mengekspresikan karakter dirinya. Ekspresi ini kemudian lebih terkait kepada ekspresi keagamaan seseorang, mengingat cadar merupakan bagian dari ekspresi berpakaian dalam Islam. Apabila kebebasan ekspresi keagamaan ini diintervensi, maka pihak yang mengintervensi telah melanggar undang-undang. 
     Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Bambang Soesatyo menegaskan bahwa kebijakan pihak UIN SUKA tidak memiliki dasar hukum. Ia juga menekankan bahwa kebijakan tersebut tidak sesuai dengan Pasal 29 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masingmasing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.” 
     Ketidaksesuaian ini karena cadar merupakan bagian dari ekspresi keagamaan seseorang. Ekspresi keagamaan ini lebih mengerucut kepada ajaran agama Islam. Ketidaksesuaian kebijakan pihak UIN SUKA dengan undang-undang tentu menimbulkan polemik. Hal ini kemudian ditanggapi oleh oleh Menteri Ristekdikti yang menyatakan bahwa pilihan bercadar merupakan hak seseorang. Hak seseorang patut untuk kemudian tidak diintervensi oleh pihak lain. Respon juga hadir dari pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pihak MUI melalui ketua umumnya, K.H. Ma’ruf Amin, mengharapkan adanya klarifikasi mengenai larangan bercadar dari UIN SUKA.
     Pelarangan cadar dalam kampus oleh UIN SUKA membawa konsekuensi lebih besar dalam kaitannya dengan agama Islam. Cadar merupakan permasalahan khilafiyah (terjadi perbedaan pendapat). Perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan Ulama’ berkaitan dengan cadar berkisar pada hukum pemakaiannya, yaitu antara mubah, sunah, dan wajib. Namun tidak ditemukan adanya Ulama’ yang mengharamkan pemakaian cadar. Kebijakan pelarangan cadar yang dilakukan bertentangan dengan hukum mengenai cadar yang berlaku dalam Islam. Sebagai sebuah institusi perguruan tinggi yang bercirikhaskan Islam, maka UIN SUKA tidak sepatutnya melarang pemakaian cadar, karena hal ini merupakan permasalahan khilafiyah. Bila pun pihak UIN SUKA melarang, maka sepatutnya diiringi dengan dialog terbuka, bukan menetapkan secara sepihak.

Deradikalisasi Cadar 
     Kementerian Ristekdikti senantiasa mencegah radikalisme, terutama di dalam kampus. Deradikalisasi ini dilakukan secara berkelanjutan (sustainable) dalam berbagai bentuk. Deradikalisasi sendiri merupakan program yang dicanangkan oleh pemerintah. Deradikalisasi dapat diartikan sebagai upaya untuk menurunkan paham radikalisme dan menetralisirnya. Masalah kemudian muncul pada implementasi deradikalisasi. 
     Pihak kampus UIN SUKA menyatakan bahwa pelarangan cadar bertujuan untuk mencegah radikalisme (deradikalisasi). Dari sini terlihat bahwa ada indikasi cadar seringkali dikaitkan dengan praktik radikalisme. Pengkaitan ini tentu tidak memiliki dasar yang kuat, mengingat tidak bisa seseorang dikatakan berpaham radikal hanya karena ia menggunakan cadar. Paham yang dianut seseorang tidak bisa dengan mudah ditentukan melalui caranya berpakaian. 
    Definisi radikalisme pun perlu untuk ditinjau ulang. Apabila merujuk pada akar katanya, radikalisme merupakan kata yang diserap dari bahasa Latin “radix, radicis”. Menurut The Concise Oxford Dictionary (1987), berarti akar, sumber, atau asal mula. Apabila merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) radikalisme berarti paham atau aliran yang radikal dalam politik; paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis; sikap ekstrem dalam aliran politik. Sedangkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyatakan bahwa radikalisme adalah suatu sikap yang mendambakan perubahan secara total dan bersifat revolusioner dengan menjungkirbalikkan nilai-nilai yang ada secara drastis lewat kekerasan (violence) dan aksiaksi yang ekstrem. Definisi-definisi tersebut merupakan definisi yang memang menyiratkan bahwa radikalisme merupakan paham yang patut untuk dicegah. Namun kemudian, permasalahannya adalah bagaimana cadar bisa dijadikan parameter radikalisme?
     Pihak BNPT telah merilis parameter radikalisme yang berjumlah 4 poin. Parameter-parameter ini adalah:
1. intoleran (tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain) 
2. fanatik (selalu merasa benar sendiri; menganggap orang lain salah)
3. eksklusif (membedakan diri dari umat Islam umumnya) 
4. revolusioner (cenderung menggunakan cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan). 
     Berbagai parameter yang telah dirilis oleh BNPT patut untuk dicermati. Parameter ini selayaknya menjadi pedoman dalam menghakimi status paham radikalisme seseorang. Stigma negatif radikalisme dalam diri seseorang tentu tidak dapat diberikan hanya dengan memandang cara berpakaiannya. Apabila yang dimaksud radikalisme yang hendak dicegah oleh UIN SUKA merujuk pada definisi BNPT, maka selayaknya UIN SUKA juga mengikuti parameter radikalisme dari BNPT. Namun kemudian, yang terjadi adalah UIN SUKA melakukan ‘pendataan dan pembinaan’ bagi mahasiswi bercadar dengan dalih mencegah radikalisme.
     Pembinaan yang dilakukan oleh UIN SUKA disebut merupakan sebuah langkah nyata upaya ‘deradikalisasi’. Namun, pembinaan belum jelas bagaimana bentuk dan polanya. Terlebih, apabila pembinaan ini didasarkan pada upaya deradikalisasi, maka dapat dikatakan bahwa UIN SUKA menganggap mahasiswi yang bercadar merupakan penganut radikalisme. Sedangkan, kenyataannya, mahasiswi bercadar tidak memenuhi kriteria radikalisme yang dicanangkan oleh BNPT. Hal ini terjadi karena kembali, tidak bisa stigma radikal dialamatkan kepada seseorang hanya karena bentuk ekspresi berpakaiannya.
     Pembinaan pihak UIN SUKA tidak melibatkan hak mahasiswi dalam berekspresi dalam berpakaian. Hal ini ditunjukkan dengan ancaman pihak UIN SUKA yang menyatakan bahwa apabila pembinaan telah selesai dilakukan dan mahasiswi tetap memakai cadar, maka mahasiswi bersangkutan diminta untuk mengundurkan diri. Ancaman ini bertolak belakang dengan pernyataan dari Menristekdikti yang menegaskan bahwa pilihan bercadar merupakan hak seseorang dan tidak boleh diganggu gugat. 
     Berbagai kerancuan yang hadir melalui kebijakan UIN SUKA mengenai larangan bercadar membuat publik semakin menanyakan konsep deradikalisasi yang dimaksud. Kebijakan yang disebut sebagai langkah nyata upaya deradikalisasi menimbulkan kecurigaan sebagai praktik diskriminatif. Simpang siur definisi dan parameter radikalisme yang tidak diperjelas oleh pihak UIN SUKA menurunkan kepercayaan publik (terutama muslim) terhadap institusi bersangkutan.

Fiqh Cadar
Apa hukum memakai cadar? 
     Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an surat an-Nuur ayat 31 yang artinya: “Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) tampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putri suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau saudara putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”  Inilah dalil secara umum tentang anjuran Allah kepada kaum wanita untuk menjaga dirinya, termasuk cadar adalah salah satu sarana agar terhindar dari fitnah laki-laki. Sehingga para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, diantara mereka ada yang mewajibkan dan ada pula yang tidak mewajibkan. Uraian dari beberapa pendapat ini difokuskan pada pendapat para Ulama’ empat madzhab, yaitu:

Madzhab Hanafi 
     Pendapat madzhab Hanafi, mereka mengatakan wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai niqab (cadar) hukumnya Sunnah. Dan menjadi wajib jika dikhawatirkan wajah wanita tersebut menimbulkan fitnah. 
     Al Imam Muhammad ‘Alaa-uddin mengatakan: “seluruh badan wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan dalam. Dalam suatu riwayat, juga telapak tangan luar. Demikian juga suaranya. Namun bukan aurat jika di hadapan sesama wanita. Jika cenderung menimbulkan fitnah, maka dilarang menampakkan wajah di hadapan para lelaki.” (Ad-Duur alMuntaqa, hlm. 81) 
     Ibnu Abidin juga mengatakan: “Dilarang bagi wanita menempakkan wajahnya karena khawatir akan dilihat oleh para lelaki, kemudian timbullah fitnah. Karena jika wajah ditampakkan terkadang lelaki itu melihatnya dengan syahwat.” (Hasyiah ‘Alad Duur alMukhtar, 3/188-189) 
     Al Allamah Ibnu Najim mengatakan: “Para ulama madzhab kami (madzhab Hanafi) berkata bahwa dilarang bagi wanita muda untuk menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki di zaman kita ini. Karena dikhawatirkan menimbulkan fitnah.” (Al-Bahr ar-Raiq, 284) 
     Dari pemaparan para Ulama’ di atas dapat kita pahami bahwa hukum memakai cadar itu Sunnah (dianjurkan). Sedangkan jika wajah wanita itu sangat cantik, elok dan menawan, maka memakai cadar hukumnya menjadi wajib. 

Madzhab Maliki 
Madzhab Maliki berpendapat bahwa wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya Sunnah. Bahkan sebagian madzhab Maliki mengatakan seluruh tubuh wanita adalah aurat. Ibnul Arabi mengatakan: “Wanita itu seluruhnya adalah aurat. Baik tubuhnya maupun suaranya. Tidak boleh menampakkan wajahnya kecuali dalam keadaan darurat atau kebutuhan yang mendesak, seperti persaksian atau pengobatan pada tubuhnya…” (Ahkamul Qur’an, 3/1579) 
     Pendapat ini sama halnya dengan pendapat Madzhab Hanafi. Hanya satu yang membedakan, yaitu suara. Sebagian madzhab Maliki berpendapat bahwa suara wanita yang sangat merdu itu aurat sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah. Dan hendaknya seorang lelaki itu menundukkan pandangannya.

Madzhab Syafi’i
     Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa aurat wanita di depan lelaki ajnabi (bukan mahram) adalah seluruh tubuh. Sehingga mereka mewajibkan wanita untuk memakai cadar di hadapan lelaki ajnabi. Inilah pendapat mu’tamad madzhab Syafi’i. Syaikh Muhammad bin Qashim al-Ghazzi, penulis Fathul Qaarib, berkata: “Seluruh badan wanita selain wajah dan telapak tangan adalah aurat. Ini aurat dalam shalat. Adapun di luar shalat, aurat wanita adalah seluruh badan.” (Fathul Qaarib, 19) Ulama’ dari kalangan madzhab Syafi’i mengatakan bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat ketika di hadapan lelaki ajnabi. Sehingga hal ini memiliki konsekuensi bagi seorang wanita untuk menggunakan cadar. 

Madzhab Hanbali
     Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Setiap bagian tubuh wanita adalah aurat. Termasuk kukunya.” (Dinukil dalam Zaadul Masiir, 6/31) 
    Dari perkataan Imam Ahmad di atas, kita bisa tahu bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat. Sehingga seorang wanita apabila berjalan kaki tidak boleh berjalan dengan melenggaklenggokkan tubuhnya, karena hal itu bisa menggoda syahwat seorang pria.
     Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata: “Pendapat yang rajah (kuat) dalam masalah ini adalah wajib hukumnya bagi wanita untuk menutup wajahnya dari pandangan lelaki yang bukan mahramnya.” (Lihat Fatawa Nurun ‘alad Darbi)
    Imam Ahmad sependapat dengan Syaikh Utsaimin dalam hal ini. Oleh karena itu, hendaknya seorang wanita menjaga dirinya supaya tidak menimbulkan fitnah bagi lelaki dengan menutup wajahnya dan tidak harus bercadar, ia bisa menutup wajahnya dengan hijab yang ia gunakan. Kemudian bagi para lelaki hendaknya ia juga bisa menundukkan pandangannya ketika melihat seorang wanita yang melintas di hadapannya. Wallahu a’lam bis shawab.

Refleksi
     Setelah meninjau secara cermat dan mendalam mengenai isu yang sedang ada berkaitan dengan surat edaran dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta bernomor B-1301/Un.02/R/AK.00.3/02/2018 mengenai permohonan pendataan dan pembinaan terhadap mahasiswi bercadar, maka Mahasiswa Pecinta Islam (MPI) Daerah Yogyakarta menyatakan bahwa: 
1. larangan pemakaian cadar merupakan sebuah pelanggaran hak individu dan pelanggaran terhadap pasal 29 ayat (2) UUD 1945 serta terhadap jaminan negara terkait kebebasan menjalankan keyakinan dan ibadah setiap anggota masyarakat 
2. kebijakan yang bersangkutan menyalahi kaidah dalam hukum Islam, terutama kaitannya dengan hukum pemakaian cadar
3. kebijakan yang bersangkutan merupakan kebijakan yang tidak memiliki dasar yang kuat, karena bertolak dari asumsi dasar yang lemah mengenai hubungan antara cadar dan radikalisme, bukan berdasarkan data kuat yang bisa dipertanggungjawabkan 
4. ada indikasi kuat bahwa kebijakan bersifat diskriminatif dan berusaha memarginalkan perempuan bercadar
5. menolak kebijakan yang bersangkutan dan memberikan dukungan penuh kepada setiap orang untuk memerjuangkan kebebasan menjalankan keyakinan dan ibadahnya 
6. menghimbau kepada setiap kader MPI khususnya daerah Yogyakarta untuk senantiasa menjadi problem solver bagi umat dalam upayanya untuk menjalankan syariat Islam sehingga tercipta generasi Islam yang memahami, mencintai, dan memperjuangkan Islam.
 Demikian pernyataan ini kami sampaikan. Semoga melalui pernyataan ini umat bisa lebih menghargai perbedaan senantiasa berjuang untuk meraih ridho Allah azza wa jalla. Wallahu a’lam bis shawab. 
Nashrum minallah wa fathun qarib!

Referensi 
Dr. A’idh Al-Qarni, 2003, Ensiklopedi Dalil Hukum, (Riyadh: Maktabah al-‘Ubaikaan) 
Ibnu Katsir, 2004, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5, (Surabaya: PT. Bina Ilmu) 
https://news.detik.com/berita/d-3899622/polemik-cadar-di-uin-yogya-menristekdiktijangan-ganggu-
     hak-orang 
https://ristekdikti.go.id/perkuat-ideologi-pancasila-dan-agama-cegah-paham-radikalterorisme-masuk-
     ke-perguruan-tinggi/ 
https://www.ristekdikti.go.id/pemerintah-terus-cegah-radikalisme/
http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-43298214
https://www.hidayatullah.com/artikel/mimbar/read/2018/03/05/137082/cadar-menghantuikampus-
     islam.html 
http://uin-suka.ac.id/ 
https://kl.antaranews.com/berita/3277/hak-beragama-dan-cara-berpakaian
http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-43298214 
https://tirto.id/larangan-bercadar-di-kampus-uin-yogyakarta-dinilai-diskriminatif-cFJq
http://m.rilis.id/MUI-Minta-Rektor-UIN-Yogyakarta-Klarifikasi-soal-Larangan-Bercadar
https://www.hidayatullah.com/artikel/ghazwul-fikr/read/2015/09/01/77263/beda-radikaldan-
     radikalisme-1.html 
https://www.kiblat.net/2018/03/07/pushami-larangan-cadar-di-uin-jogja-tabrak-instruksimenristek-
     dikti/ 
https://www.kiblat.net/2018/03/07/ketua-dpr-pelarangan-cadar-di-uin-suka-tak-berdasarhukum/
https://www.kiblat.net/2018/03/07/uin-ancam-keluarkan-mahasiswi-bercadarmuhammadiyah-itu-
     kelewatan/




     
mpimedia.net

Jl. Raya Malaka Raya No. 10
Kelapa Dua Wetan, Ciracas
Jakarta Timur